Langsung ke konten utama

Selamat yang Meminta Diselamatkan

Selamat pagi, dunia hingar bingar
Kepada sepasang merpati yang sibuk mencari memoar
Kepada si pujangga baru yang sibuk menanti kabar
Sudahkah engkau tersadar
Bahwa ia yang kau nanti, sudah punya tempat bersandar

Selamat siang sang pendekar
Sudahkah engkau berjuang dengan wajar
Atau malah sudah lelah berlari dan mengejar
Pergi kemanakah semangat pagi kemarin yang berkobar?

Selamat sore, kepada pundak-pundak yang penuh dengan harapan
Kepada senja yang meminta dimanusiakan
Kepada cakrawala yang menggendong angan
Abadilah, mereka-mereka yang setia mendoakan

Selamat malam si penyalah keadaan 
Masihkah engkau menyesali kehidupan
Masih kebingungan mencari letak kanan-kiri jalanan
Tapi, tenang saja, Tuhan adalah sebaik-baiknya penulis skenario kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan Selembar Kenangan dalam Angan

Kemarin sore, hujan tidak membiarkan senja melaksanakan tugasnya. Begitu pun dengan bunga mawar yang justru malah layu saat musim hujan. Mungkin itu sebabnya kasih sayang perlu disiramkan secukupnya, tidak berlebihan. Jogja masih jadi kota yang romantis, tapi kenangan-kenangan yang aku punya di sana tidak melulu yang manis-manis, banyak yang miris dan juga membawa tangis. Tapi tenang saja, Jogja adalah tempat kelahiranku, meski dia membawa banyak luka, ia juga tetap membawakanku senang dan nyaman. Bukannya memang begitu cara kerja semesta, suka berdampingan dengan duka, senang berteman dengan sedih, luka berpasangan dengan sembuh. Kenangan-kenanganku yang berlatar kota romantis masih tertata rapi di sudut hati. Mau kuceritakan salah satunya? Ceritanya sederhana, tentang seorang laki-laki yang berteman akrab dengan pena, sama sepertiku, bedanya aku suka menulis, sedangkan ia suka menggambar dan melukis. Waktu itu, aku ingat sekali. Saat hari Selasa, bukannya memakai baju seragam o...