Langsung ke konten utama

Selamat yang Meminta Diselamatkan

Selamat pagi, dunia hingar bingar
Kepada sepasang merpati yang sibuk mencari memoar
Kepada si pujangga baru yang sibuk menanti kabar
Sudahkah engkau tersadar
Bahwa ia yang kau nanti, sudah punya tempat bersandar

Selamat siang sang pendekar
Sudahkah engkau berjuang dengan wajar
Atau malah sudah lelah berlari dan mengejar
Pergi kemanakah semangat pagi kemarin yang berkobar?

Selamat sore, kepada pundak-pundak yang penuh dengan harapan
Kepada senja yang meminta dimanusiakan
Kepada cakrawala yang menggendong angan
Abadilah, mereka-mereka yang setia mendoakan

Selamat malam si penyalah keadaan 
Masihkah engkau menyesali kehidupan
Masih kebingungan mencari letak kanan-kiri jalanan
Tapi, tenang saja, Tuhan adalah sebaik-baiknya penulis skenario kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan Selembar Kenangan dalam Angan

Kemarin sore, hujan tidak membiarkan senja melaksanakan tugasnya. Begitu pun dengan bunga mawar yang justru malah layu saat musim hujan. Mungkin itu sebabnya kasih sayang perlu disiramkan secukupnya, tidak berlebihan. Jogja masih jadi kota yang romantis, tapi kenangan-kenangan yang aku punya di sana tidak melulu yang manis-manis, banyak yang miris dan juga membawa tangis. Tapi tenang saja, Jogja adalah tempat kelahiranku, meski dia membawa banyak luka, ia juga tetap membawakanku senang dan nyaman. Bukannya memang begitu cara kerja semesta, suka berdampingan dengan duka, senang berteman dengan sedih, luka berpasangan dengan sembuh. Kenangan-kenanganku yang berlatar kota romantis masih tertata rapi di sudut hati. Mau kuceritakan salah satunya? Ceritanya sederhana, tentang seorang laki-laki yang berteman akrab dengan pena, sama sepertiku, bedanya aku suka menulis, sedangkan ia suka menggambar dan melukis. Waktu itu, aku ingat sekali. Saat hari Selasa, bukannya memakai baju seragam o...

Nice to meet you, Divya.

Sepertinya memilih untuk mengikuti ajakan Lina menonton konser band di kampus bukan pilihan yang tepat, dan sekarang Divya sibuk menyesali pilihan yang ia buat setengah jam lalu. Sebuah panggung tinggi berdiri megah di depan gedung sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni kampus mereka, lampu sorot warna-warni menghidupkan suasana, musik mengalun dengan spontan, mengisi tiap-tiap telinga dengan semangat dan mengajak tiap-tiap kaki untuk meloncat. Divya berdiri di pinggir, di bawah pohon kersen yang rindang, sedangkan Lina di tengah sana, sibuk menyanyi dan menari bersama teman-teman barunya.  Divya berdiri dan menatap sekitar, merasa kalau apa yang ia kenakan salah, sangat berbeda dengan apa yang dikenakan kebanyakan orang di sana. Kemeja warna baby blue dan rok jeans di bawah lutut terlihat kontras di antara kebanyakan jaket kulit berwarna hitam. Lina sendiri memakai rok hitam mini dengan aksesoris rantai di pinggangnya, juga tank top crop dengan warna yang sama, rambutnya yang berwar...

gunting, batu, kertas.

  Setelah pertemuan mendadak yang tidak Divya sangka-sangka, gadis itu berhasil melarikan diri, pergi ke gedung sastra asing yang ada di ujung, melarikan diri sejauh mungkin dari keramaian. Tapi jujur saja, ia merasa sedikit merinding di sini, lampu yang temaram dan juga sepi tiba-tiba membuat kepala Divya secara tidak sadar menyenandungkan lagu horor. Divya duduk di bangku besi di depan koridor, mencoba menghilangkan segala bentuk pikiran yang selalu mengarah ke film horor yang minggu lalu ia tonton. Ketika Divya sedang bersaing dengan pikirannya sendiri, sebuah kilat tiba-tiba menimpa wajahnya, gadis itu kaget bukan main, bertanya-tanya kilat apa tadi, meski tidak yakin tapi Divya merasa kalau kilat itu berasal dari blitz kamera. Ketika Divya sibuk menengok ke sana dan ke mari, sebuah bayangan keluar dari belakang pohon mahoni rindang yang berjarak sekitar lima meter dari tempat Divya duduk. Divya sontak berdiri dan berniat untuk berlari sekuat-kuatnya, tapi sebuah suara yang m...