Langsung ke konten utama

Selamat yang Meminta Diselamatkan

Selamat pagi, dunia hingar bingar
Kepada sepasang merpati yang sibuk mencari memoar
Kepada si pujangga baru yang sibuk menanti kabar
Sudahkah engkau tersadar
Bahwa ia yang kau nanti, sudah punya tempat bersandar

Selamat siang sang pendekar
Sudahkah engkau berjuang dengan wajar
Atau malah sudah lelah berlari dan mengejar
Pergi kemanakah semangat pagi kemarin yang berkobar?

Selamat sore, kepada pundak-pundak yang penuh dengan harapan
Kepada senja yang meminta dimanusiakan
Kepada cakrawala yang menggendong angan
Abadilah, mereka-mereka yang setia mendoakan

Selamat malam si penyalah keadaan 
Masihkah engkau menyesali kehidupan
Masih kebingungan mencari letak kanan-kiri jalanan
Tapi, tenang saja, Tuhan adalah sebaik-baiknya penulis skenario kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan Selembar Kenangan dalam Angan

Kemarin sore, hujan tidak membiarkan senja melaksanakan tugasnya. Begitu pun dengan bunga mawar yang justru malah layu saat musim hujan. Mungkin itu sebabnya kasih sayang perlu disiramkan secukupnya, tidak berlebihan. Jogja masih jadi kota yang romantis, tapi kenangan-kenangan yang aku punya di sana tidak melulu yang manis-manis, banyak yang miris dan juga membawa tangis. Tapi tenang saja, Jogja adalah tempat kelahiranku, meski dia membawa banyak luka, ia juga tetap membawakanku senang dan nyaman. Bukannya memang begitu cara kerja semesta, suka berdampingan dengan duka, senang berteman dengan sedih, luka berpasangan dengan sembuh. Kenangan-kenanganku yang berlatar kota romantis masih tertata rapi di sudut hati. Mau kuceritakan salah satunya? Ceritanya sederhana, tentang seorang laki-laki yang berteman akrab dengan pena, sama sepertiku, bedanya aku suka menulis, sedangkan ia suka menggambar dan melukis. Waktu itu, aku ingat sekali. Saat hari Selasa, bukannya memakai baju seragam o...

See you soon, Jingga.

  Langit kota Semarang terlihat tidak bersemangat, biasanya di jam tiga sore masih terik tapi September kali ini sepertinya sedang murung. Tapi meski begitu, Wicakra cukup senang dengan cuaca hari ini yang mendung, ia jadi tidak perlu kepanasan dan berkeringat. Dengan langkah yang sama mendungnya seperti langit, Wicakra membawa kotak berisi cake di tangan kanan, dan sebuket besar bunga lily putih dan sebotol air mineral di tangan kiri. Ia tidak menyukai kunjungan ini, karena dari sini ia akan kembali ditampar kenyataan bahwa Jingga sudah pergi, pergi untuk tidak kembali. Dan ia benci itu, ia benci mengingat kembali fakta yang ingin ia lupakan. Wicakra berdiri tepat di sebuah nisan yang mengukir nama Jingga, ia melipir ke pinggir untuk meletakkan barang yang ia bawa, dengan gerakan yang pasti ia membuka tutup botol air mineral yang ia bawa untuk dituangkan ke makam Jingga. Sore itu suasananya sendu, muram sekali, seolah bumi ikut merayakan kesedihan yang Wicakra rasakan. "Sore, ...

I can't run away

  Seorang laki-laki memencet pin di pintu apartemen Wicakra, suara pintu yang dibuka dari luar sama sekali tidak mengganggu orang yang berada di dalam, laki-laki itu masih sibuk berkutat dengan laptop yang menyala di depannya karena ia tahu siapa yang akan masuk. Dan benar saja, suara yang sangat ia kenal memenuhi ruangan, bahkan ia tidak perlu memalingkan wajah untuk mengetahui siapa yang datang. Mandala memperhatikan apartemen Cakra dengan seksama, tidak ada yang berubah, semua barang dan pajangan tertata rapi, sebuah pigura besar berisi potret keluarga Cakra masih tertempel di dinding, Cakra bersama kedua orang tua dan adiknya. Ruangan bergaya minimalis itu lenggang, tidak berisi banyak barang, hanya rak buku di sisi kiri dan sofa di tengah ruangan, lalu ada dapur kecil di sebelah kanan. “Lagi nugas?” “Ngga juga, cuma lihat rangkaian acara citra nanti malem.” Mandala yang baru saja datang membawa kresek putih ikut duduk di atas karpet bulu menghadap meja, ia berhenti mel...