Setelah pertemuan mendadak yang tidak Divya sangka-sangka, gadis itu berhasil melarikan diri, pergi ke gedung sastra asing yang ada di ujung, melarikan diri sejauh mungkin dari keramaian. Tapi jujur saja, ia merasa sedikit merinding di sini, lampu yang temaram dan juga sepi tiba-tiba membuat kepala Divya secara tidak sadar menyenandungkan lagu horor. Divya duduk di bangku besi di depan koridor, mencoba menghilangkan segala bentuk pikiran yang selalu mengarah ke film horor yang minggu lalu ia tonton. Ketika Divya sedang bersaing dengan pikirannya sendiri, sebuah kilat tiba-tiba menimpa wajahnya, gadis itu kaget bukan main, bertanya-tanya kilat apa tadi, meski tidak yakin tapi Divya merasa kalau kilat itu berasal dari blitz kamera. Ketika Divya sibuk menengok ke sana dan ke mari, sebuah bayangan keluar dari belakang pohon mahoni rindang yang berjarak sekitar lima meter dari tempat Divya duduk. Divya sontak berdiri dan berniat untuk berlari sekuat-kuatnya, tapi sebuah suara yang m...
Bersama, kita membaru yang membiru.