Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

gunting, batu, kertas.

  Setelah pertemuan mendadak yang tidak Divya sangka-sangka, gadis itu berhasil melarikan diri, pergi ke gedung sastra asing yang ada di ujung, melarikan diri sejauh mungkin dari keramaian. Tapi jujur saja, ia merasa sedikit merinding di sini, lampu yang temaram dan juga sepi tiba-tiba membuat kepala Divya secara tidak sadar menyenandungkan lagu horor. Divya duduk di bangku besi di depan koridor, mencoba menghilangkan segala bentuk pikiran yang selalu mengarah ke film horor yang minggu lalu ia tonton. Ketika Divya sedang bersaing dengan pikirannya sendiri, sebuah kilat tiba-tiba menimpa wajahnya, gadis itu kaget bukan main, bertanya-tanya kilat apa tadi, meski tidak yakin tapi Divya merasa kalau kilat itu berasal dari blitz kamera. Ketika Divya sibuk menengok ke sana dan ke mari, sebuah bayangan keluar dari belakang pohon mahoni rindang yang berjarak sekitar lima meter dari tempat Divya duduk. Divya sontak berdiri dan berniat untuk berlari sekuat-kuatnya, tapi sebuah suara yang m...

Hujan dan Selembar Kenangan dalam Angan

Kemarin sore, hujan tidak membiarkan senja melaksanakan tugasnya. Begitu pun dengan bunga mawar yang justru malah layu saat musim hujan. Mungkin itu sebabnya kasih sayang perlu disiramkan secukupnya, tidak berlebihan. Jogja masih jadi kota yang romantis, tapi kenangan-kenangan yang aku punya di sana tidak melulu yang manis-manis, banyak yang miris dan juga membawa tangis. Tapi tenang saja, Jogja adalah tempat kelahiranku, meski dia membawa banyak luka, ia juga tetap membawakanku senang dan nyaman. Bukannya memang begitu cara kerja semesta, suka berdampingan dengan duka, senang berteman dengan sedih, luka berpasangan dengan sembuh. Kenangan-kenanganku yang berlatar kota romantis masih tertata rapi di sudut hati. Mau kuceritakan salah satunya? Ceritanya sederhana, tentang seorang laki-laki yang berteman akrab dengan pena, sama sepertiku, bedanya aku suka menulis, sedangkan ia suka menggambar dan melukis. Waktu itu, aku ingat sekali. Saat hari Selasa, bukannya memakai baju seragam o...

Sepotong Cokelat

Semuanya gelap, yang bisa dirasakan oleh gadis kecil bermata bulat berwarna coklat hazel itu hanyalah rasa dingin. Kakinya menapaki tanah dengan sempurna, merasakan kelembaban tanah yang menjulur sampai pipi chubbynya.  Gadis kecil itu menutup matanya lalu mulai berhitung dari angka 1 sampai 10, sesuai dengan perkataan ibunya dulu. "Kalau semuanya berwarna hitam dan kamu terlalu takut sampai tak bisa merasakan apa pun. Tutup matamu, jadikan gelap itu teman bukannya lawan. Nanti, gelap itu sendiri yang akan menuntunmu menuju cahaya", dalam keadaan menutup mata, muncul ibunya dengan senyuman paling tulus di dunia yang pernah ia tau. Sebenarnya, gadis kecil itu tidak tau seberapa lama dirinya menutup mata. Menghitung dari angka 1 sampai 10 saja dirinya sudah kewalahan. Tak ambil pusing, dengan cepat gadis itu membuka matanya. Penglihatannya sudah membaik, rasa takut yang tadi ia rasakan menguap dengan sempurna. "Menjadikan teman bukannya lawan" adalah solusi sederhana ...